Jumat, 13 Mei 2022

Materi DLE Kelas X Semester 1

Kompetensi Dasar :

3.1 Menerapkan konsep listrik dan elektronika (gejala fisik arus listrik dan potensial listrik)

4.1 Menggunakan konsep listrik dan elektronika (gejala fisik arus listrik dan potensial listrik)

Tema: Penerapan Konsep Listrik dan Elektronika

 A. Karakteristik Atom

Atom adalah partikel kecil dari sebuah molekul yang sifatnya tidak dapat dibagi lagi. Atom terdiri dari proto, neutron, dan elektron, dimana proton bermuatan positif terhadap elektron dan elektron bermuatan negatif sedangkan dalam keadaan normal inti (neutron) tidak bermuatan. Karakteristik atom antara lain sebagai berikut :

1.  Setiap inti memiliki medan gaya tarik dengan elektron dan dikenal sebagai muatan.

2.  Inti bermuatan positif terhadap elektron, sebaliknya elektron bermuatan negatif terhadap intinya.

3.  Kedua muatan tersebut saling tarik-menarik atau tolak-menolak dan juga bermuatan netral jika jumlah muatan positif dan negatif seimbang.


B. Susunan Atom

Banyaknya elektron yang melintas ditentukan oleh berat unsur kimia, dimana semakin besar berat unsurnya suatu unsur maka akan semakin banyak jumlah elektron yang mengelilingi intinya. Jumlah elektron yang melintasi tiap lapisan dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

 

Keterangan:

e = Banyak elektron yang melintas

n = 1,2,3, … (nomor lintasan, dimana angka terkecil menyatakan lintasan yang paling dekat intinya).

Dengan demikian banyaknya elektron yang melintas pada tiap lintasan untuk unsur silikon seperti gambar di samping.

Lintasan pertama (1) = 2 . 12 = 2 buah elektron

Lintasan kedua (2) = 2 . 23 = 8 buah elektron

Lintasan ketiga (3) = 4 buah elektron sisa


Pada lintasan ketiga hanya melintasi empat buah elektron, karena termasuk sisa dari 14 – (2 +8) = 4 buah elektron. Elektron-elektron yang melintasi pada lapisan terdalam yang berdekatan dengan inti akan terikat kuat oleh muatan intinya dan akan sulit melepaskan diri dari susunannya. Sedangkan bagi elektron-elektron yang menempati lapisan terluar akan mudah dipengaruhi oleh sejumlah tenaga dari terluar dan dapat keluar sebagai elektron bebas.


Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Lapisan Atom Unsur Silikon dan Penyederhanaannya

 

Elektron yang menempati lapisan terluar akan memegang peranan penting dalam menentukan sifat kimia dan kelistrikan unsur disebut dengan elektron valensi. Pada tiap elektron memiliki kemampuan mengikat satu elektron dari atom lain yang ada di sekitarnya. Terdapat beberapa atom silikon yang saling berdekatan, maka elektro-elektron yang saling berdekatan akan menjalin ikatan kovalen.



Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Struktur Kristal Silikon deangan Ikatan Kovalen

 

C. Elektron Bebas dan Hole

Suatu efek agitasi seperti kenaikan temperatur akan menghasilkan getaran pada inti atom sehingga berakibat ikatan kovalen akan pecah dan diikuti oleh lepasnya elektron-elektron. Elektron yang lepas dari ikatannya disebut elektron bebas yang bermuatan negatif. Sedangkan, tempat yang ditinggalkan oleh elektron akan membentuk suatu muatan positif yang disebut sebagai kekosongan atau hole.


Pada temperatur kamar 27°C, energi panas sudah mampu membebaskan elektron dar ikatan kovalen, hingga kata lain temperatur kamar memiliki sifat silikon yang pada kondisi semula bersifat sebagai penyekat sempurna dapat berubah menjadi penghantar arus listrik. Daya hantar jenis bahan semikonduktor murni sangat rendah, maka guna memperbesar daya hantar tersebut dapat dilakukan dengan proses pencampuran dengan unsur lain dengan maksud untuk memperbanyak terjadinya elektron-elektron bebas dan hole. Istilah pencampuran ini dikenal dengan nama pengotoran (Impurity) atau Doping. Elektron bebas dan hole yang terjadi disebut sebagai pembawa muatan (Charge-Carrier).


Elektron valensinya bergerak hampir bebas terhadap intinya. Karakteristik dan macam aksi kelistrikan seperti loncatan listrik statis, pembangkit panas, reaksi kimia terjadi karena adanya aliran listrik. Aliran listrik terjadi karena adanya elektron bebas.

Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Elektron Bebas dan Hole

 

D. Listrik

Kejadian kesetrum listrik merupakan kejadian dimana terdapat aliran listrik yang mengalir pada tubuh kita. Hal ini dapat terjadi karena pada dasarnya tubuh manusia merupakan konduktor yang baik, dimana tubuh manusia sebagian besar merupakan cairan sehingga mampu menghantarkan listrik dengan baik. Listrik adalah suatu muatan yang terdiri atas muatan positif dan muatan negatif. Listrik menimbulkan berbagai macam efek seperti petir, listrik statis, induksi elektromagnetik, dan arus listrik.

Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Petir Merupakan Salah satu Efek dari Listrik

 

Munculnya listrik karena adanya beberapa tipe fisika, yaitu muatan listrik, medan magnet, potensial listrik, arus listrik, dan elektromagnet. Dalam kehidupan sehari-hari gejala listrik yakni pada sisir yang digosokkan pada rambut, kemudian didekatkan pada kertas. Berikut hukum-hukum dari gejala listrik:

1.  Hukum Coulomb

Buku hukum coulomb sebagai berikut “Besarnya gaya tolak-menolak atau gaya tarik-menarik antara dua benda bermuatan listrik, berbanding lurus dengan besar masing-amsing muatan listrik dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda bermuatan”. Rumus dari hukum Coulomb sebagai berikut:

a.  Muatan Listrik yang Berada di Ruang Hampa Udara/ Vakum

Keterangan:

F  = Besar gaya interaksi yang dialami oleh masing-masing muatan (Newton)

k  = konstanta pembanding besarnya  9 x 109 Nm2/C2

q1  = besarnya muatan pertama (coulomb)

q2  = besarnya muatan kedua (Coulomb)

r    = jarak antara kedua muatan listrik (meter)

 

b.  Muatan Listrik yang Berada di Medium Dielektrik

 

Keterangan:

ke  = konstanta dielektrik dari medium (permitivitas relatif)

Hubungan antara k dan ke sebagai berikut rumusnya :

Keterangan:

ε0  = permitivitas ruan vakum (ruang hampa) : 8,9 x 10-12 C2/Nm2

Gaya Coulomb termasuk besaran vektor. Jika sebuah benda dipengaruhi benda bermuatan listrik lebih dari satu, maka besar gaya Coulomb bekerja pada benda itu sama dengan jumlah vektor masing-masing gaya coulomb yang ditimbulkan masing-masing benda bermuatan tersebut.


Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Neraca Puntir Coulomb 


2.  Hukum Faraday

Hukum Faraday berbunyi sebagai berikut “Sebuah garis gaya yang dilukiskan apabila garis singgung pada setiap titiknya menunjukkan arah medan listrik pada titik tersebut. Garis gaya menuju keluar dari muatan positif dan masuk menuju ke muatan negatif”.


Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Arah Garis Gaya pada Hukum Faraday

 

3.  Hukum Oersted

Hukum Oersted berbunyi sebagai berikut “Jika muatan listrik mengalir melalui kawat penghantar konduktor, maka akan timbul pengaruh magnetik di sekitar kawat berarus tersebut”. Pengaruh magnetik ini mampu menarik bahan magnetik lainnya. Jika serbuk besi diletakkan di sekitar kawat berarus, maka serbuk besi tersebut akan berarh secara teratur. Terdapat dua tipe listrik antara lain listrik statis dan dinamis. Listrik dinamis dibagi lagi menjadi dua antara lain, arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Listrik statis adalah suatu keadaan elektron bebas sudah terpisah dari atomnya masing-masing, tetapi tidak bergerak dan hanya berkumpul di atas permukaan benda tersebut. Sedangkan listrik dinamis adalah suatu keadaan terjadinya aliran elektron bebas, elektron ini berasal dari elektron yang sudah terpisah dari atomnya dan bergerak melalui benda yang memiliki sifat konduktor. Pada arus searah (DC) adalah elektron bebas bergerak dengan arah tetap. Sedangkan arus bolak-balik (AC) adalah arah gerakan dan jumlah arus bervariasi secara periodik terhadap waktu.


Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Percobaan Oersted

 

E. ArusListrik

Pada sebuah peralatan listrik yang menyala (lampu), terdapat arus listrik yang mengalir pada rangkaiannya.

1.  Pengertian Arus Listrik

Arus listrik adalah muatan yang mengalir tiap satuan waktu. Satuan untuk kuat arus listrik adalah coulomb per deti, tetapi untuk satuan kuat arus listrik yang biasa digunakan adalah ampere. Satu coulomb per detik sama dengan satu ampere. Berikut adalah rumus dari arus listrik :

Keterangan:

I   = arus listrik (ampere atau A)

Q  = muatan listrik (Coulomb atau C)

t    = waktu (sekon atau s)

Contoh Soal Latihan:

Sebuah baterai memberikan arus 0,5 A pada sebuah lampu selama 2 menit. Berapakah muatan listrik yang dipindahkan?

Penyelesaian:

Diketahui: I = 0,5 A

                  t = 2 menit = 120 detik

Ditanya:    Q = … ?

Dijawab:   Q = I x t

                  Q = 0,5 x 120 = 60 Coulomb

 

Kejadian yang disebabkan oleh arus listrik adalah sebagai berikut :

a.  Pembangkit Panas

Jika arus melewati konduktor, maka akan menghasilkan panas.

b.  Aksi Kimia

Jika aksi kimia terjadi pada elektrolit akan menyebabkan arus listrik mengalir.

a.  Akasi Magnet

Jika arus mengalir melalui kabel akan menghasilkan medan magnet sekitarnya.

 

2.  Penyebab Aliran Listrik

Suatu benda dapat bermuatan negatif [-], positif [+] atau tidak bermuatan/netral [o]. Bila masing-masing muatan kita pertemukan pada:

[-] → [-] akan total-menolak [o] [+] tidak ada gerakan

[+] → [+] akan total-menolak [-] [o] tidak ada gerakan

[-] → [+] akan tarik-menarik [o] [o] tidak ada gerakan


Sifat utama arus listrik adalah mengalir dari positif (+) ke negatif (-) dimana dapat terjadi akibat adanya tegangan (beda potensial) antara dua titik itu. Air akan menangalir dari tangki A ke tangki B selama permukaan air di A lebih tinggi daripada B (selama potensial A lebih dari potensial B). Jika tinggi permukaan air di A dan di B sudah sama tinggi maka aliran berhenti. Supaya air tetap mengalir dari A ke B, maka air yang sudah sampai B dipindahkan kembali ke A dengan sebuah pompa. Muatan positif yang sudah sampai di B dipindahkan kembali ke A, sehingga potensial A selalu lebih tinggi dari potensila B. Alat yang digunakan untuk memindahan muatan-muatan listrik dari A ke B misalnya adalah sebuah baterai atau dinamo. Kedua alat ini sering disebut sumber arus listrik.


Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Arah Aliran Listrik

 

3.  Jenis Arus Listrik

Arus listrik  digolongkan menjadi dua macam sebagai berikut :

a.  Arus Searah

Arus searah adalah arus listrik yang searah, besar arus, dan tegangannya tetap. Contoh arus searah yaitu baterai primer (baterai kering) dan baterai sekunder( akumulator = accu).


Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Simbol Arus Listrik Searah

 

b.  Arus Bolak-balik

Arus bolak-balik adalah arus listrik yang arah arus, besar arus dan tegangannya selalu berubah secara periodik (teratur). Contoh arus bolak-balik yaitu generator atau dinamo.

Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Simbol Arus Listrik Bolak-Balik 

 

F. Beda Potensial

Benda yang bermuatan listrik bila dihubungkan dengan tanah (bumi) akan menjadi netral kembali, karena memberikan kelebihan elektronnya kepada bumi atau megambil elektron dari bumi untuk mentup kekurangan elektronnya. Jadi benda yang bermuatan dalam keadaan tidak seimbang, maka benda yang bermuatan tersebut juga bertegangan. Dua benda yang tidak sama muatannya mempunyai tegangan yang tidak sama. Antara dua benda yang tidak samabesar muatannya atau tidak sama sifat muatannya memiliki beda potensial listrik (disebut tegangan listrik).


Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Aliran Air pada Bejana Berhubungan

Beberapa cara membangkitkan beda potensial (tegangan) yaitu dengan cara induksi, tegangan kimiawi, panas, cahaya, dan listrik piezo. Satuan beda potensial yaitu volt. Adapun rumus beda potensial sebagai berikut :

Keterangan:

P   = Potensial listrik (V)

Q  = Muatan listrik (Coulomb atau C)

W = Usaha (J)

Contoh Soal Latihan:

Dalam memindahkan beberapa muatan sebesar 10 C dari A ke b, maka diperlukan usaha sebesar 100 Joule. Tentukan beda potensial antara A dan B?

Penyelesaian:

Diketahui: Q = 10 C

                 W = 100 Joule

Ditanya:    V = … ?

Dijawab:  

                  

G. Potensial Listrik

Sebuah elektron tidak dapat bergerak dengan sendirimya dari pelat A ke pelat B, elektron bergerak secara alami, jika muatan positif (+) menjauhi muatan negatif (-). Jadi untuk menggerakkan dengan arah sebaliknya diperlukan suatu usaha.

Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Pergerakan Elektron dari Pelat A ke Pelat B

 

1.  Pengertian Potensial Listrik

Pada gambar di bawah ini dilukiskan elektron bergerak dari pelat A ke pelat B. Potensial listrik yaitu usaha yang diperlukan untuk memindahkan muatan positif sebanyak 1 satuan dari tempat tak terhingga ke suatu titik tertentu.

Sumber: Dewi Wahyuningsih, Dasar Listrik dan Elektronika Bidang Keahlian Teknologi dan Rekayasa C2, Mediatama: Surakarta

Gambar Potensial Listrik

 

2.  Rumus Potensial Listrik

Teori elektron yang telah menjadi kesepakatan para ilmuwan antara lain sebagai berikut :

a. Sebuah benda memiliki jumlah elektron yang cukup sama dengan proton, amak benda dikatakan netral.

b. Sebuah benda memiliki jumlah elektron yang berlebih (lebih banyak dari jumlah proton), maka benda dikatakan berpotensial rendah.

c. Sebuah benda kekurangan elektron (lebih banyak proton) maka benda dikatakan berpotensi tinggi.

Pada gambar di bawah ini dijelaskan sebagai berikut :

A  = Jumlah elektron sama dengan jumlah proton disebut benda netral.

B  =   Jumlah elektron lebih banyak dari proton disebut benda berpotensi rendah.

C =  Jumlah elektron lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah proton disebut benda berpotensial tinggi.

Adapun rumus potensial listrik sebagai berikut :

Keterangan:

V  = potensial listrik (Joule/Coulomb)

Ep = energi potensial listrik (Joule)

Q   = muatan listrik (Coulomb)

k   = konstanta (9 x 109Nm2C-2)


Silahkan lihat video tentang Konsep Listrik dan Elektronika di bawah ini:

         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar